Legenda Jawa Barat sangat erat kaitannya dengan harimau atau dalam bahasa setempat disebut 'maung'. Beberapa simbol di Tatar Sunda baik verbal maupun non-verbal kerap dikaitkan dengan harimau.
Misalnya untuk penamaan daerah, ada yang namanya Cimaung, Cimacan kemudian simbol militer juga dinamai Komando Daerah Militer (Kodam) Siliwangi. Lambangnya harimau.
Bahkan tim sepak bola kebanggaan masyarakat Jawa Barat yakni Persib Bandung dijuluki 'Maung Bandung'.
Dalam dunia ilmu pengetahuan harimau dan macan disebut berbeda, tetapi bagi masyarakat Sunda antara harimau dan macan itu dianggap sama-sama saja.
Eratnya kaitan masyarakat Jawa Barat dan harimau tidak terlepas dari leluhur tanah Parahyangan yakni Prabu Siliwangi yang dipercaya memiliki ajian yang namanya macan putih.
Prabu Siliwangi juga dipercaya memiliki tentara gaib yang berupa harimau putih. Tetapi orang Sunda menyebutnya Macan Putih.
Warga Jawa Barat juga percaya dengan adanya harimau gaib yang diyakini sebagai wujud penjelmaan dari Prabu Siliwangi.
Harimau gaib ini digambarkan sebagai hewan berbulu loreng, atau ada juga yang mengatakan berbulu putih dan disebut sebagai maung lodaya.
Harimau Hitam
Disamping harimau loreng dan lodaya, yang diyakini sebagai jelmaan Prabu Siliwangi dan para pengikut setianya, masih ada jenis harimau gaib lainnya, yakni harimau yang berbulu hitam pekat.
Berdasarkan ilmu pengetahuan, binatang jenis ini namanya macan kumbang. Tapi bagi orang tetap saja namanya harimau. Kini harimau hitam itu dijadikan lambang kepolisian daerah (polda) Jawa Barat.
Sosok harimau hitam, mulanya berasal dari salah seorang tokoh pengabdi setia di Padjadjaran.
Saat Prabu Siliwangi berkuasa, sang tokoh mendapat kepercayaan jabatan sebagai pejabat tinggi keamanan kerajaan Padjadjaran.
Tokoh dimaksud tak lain adalah yang namanya populer dengan sebutan Eyang Langlangbuana.
Dia pertama kali ditunjuk sebagai kepala keamanan dan komandan perang di lingkungan kerajaan Padjadjaran. Kemudian ada dua orang ajudannya bernama Eyang Jagariksa dan Eyang Jagapirusa.
Disebutkan, ketiga tokoh inilah yang bertanggung jawab terhadap keamanan di lingkungan dalam kerajaan Padjadjaran dan seluruh Tatar Sunda.
Mereka juga memiliki pos pusat di Pakuan, juga sejumlah pos-pos jaga di kawasan Sukadana, Cibitu dan Cianjur.
Menurut sejarah, eyang Langlangbuana sebenarnya bukanlah orang Pajajaran asli. Dia adalah pengembara yang berasal dari Kerajaan Bugis, Makassar. Kemudian dia menikah dengan wanita Sunda.
Sebelum singgah di Padjadjaran, Eyang Langlangbuana sempat pula mengembara ke belahan bumi lain. Seperti ke Tanah Arab dan terakhir ke Tanah Jawa, atau dalam hal ini adalah Pajajaran.
Saat kerajaan Padjadjaran mendapati tekanan berat, yakni saat dikerjar anaknya Prabu Siliwangi, Kian Santang, Eyang Langlangbuana memilih jalan akhirnya sendiri, yaitu meninggal secara wajar.
Makam Eyang Langlangbuana berada di kawasan Cibule, di kaki Gunung Pangrango, Cianjur.
Senjata Pusaka
Senjata pusaka Eyang Langlangbuana ini adalah sebilah golok yang panjangnya sekitar satu meter. Pusaka ini sekarang berada di tangan seorang kolektor di Bandung.
Karena bahannya yang bukan sembarangan, pusaka eyang Langlangbuana tersebut diyakini menyimpan tuah tertentu. Menurut sang pemilik, banyak kalangan yang berhasrat untuk dapat memilikinya.
Golok ini memiliki khodam (penunggu) seekor harimau gaib berbulu hitam, jelmaan dari Eyang Langlangbuana. Golok ini merupakan perangkat beladiri yang sangat ringan untuk dimainkan. Sehingga, banyaknya pihak yang berminat.
Golok yang bergagang berupa ukiran kepala harimau hitam itu adalah benar-benar asli. Benda tersebut merupakan warisan dari para leluhurnya yang sempat mendalami dan menyusuri sejarah Pajajaran.